Sudah sepatutnya saudara-saudara saya di tanah air bersyukur, karena mereka lebih mudah mengamalkan kepercayaannya, entah itu muslim atau agama lainnya. Sebab sebaliknya, bagi muslim di negri minoritas Eropa atau di negara lain seperti kami, sungguh memerlukan energi lebih supaya dapat tetap beristiqamah. (Sihombing 2009:134)
Melewati judul demi judul saya seperti menemui diri seorang Sikrit[1] yang sedang tertatih menjadi belajar menjadi seorang muslim kaffah di negeri asing yang tidak begitu akrab dengan Islam. Ada kerinduan dengan tanah air, ada upaya keras yang tergambar lewat usaha-usahanya menjaga kesucian berislam dan ada pula kemarahan dengan sesama muslim di Paris yang tertahan.
Langkah-langkah kehidupan Sikrit seolah dimulai dari perkenalannya dengan kota Paris: KBRI dan menara Eifel yang menjadi simbol kejayaan. KBRI, bagi Sikrit, tidak hanya menjadi tempat mengadu ketika menemui masalah, tetapi juga tempatnya menuntaskan rindu dengan makanan-makanan khas Indonesia yang meskipun tidak begitu enak, tapi cukup ok lah. Langkah pertama sikrit di KBRi ini, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dengan menara Eifel. Melalui tulisannya yang berjudul Merayakan Tahun Baru dan Asyiknya 14 Juli, ia memberikan gambaran kemeriahan kota Paris dan seolah bersetuju bahwa menara itu adalah letak jantung hati dan kecintaan terhadap Paris, terutama bagi para pendatang. Ilustrasi-ilustrasi mengenai kemeriahan kembang api ketika malam perayaan tahun baru dan ulang tahun Perancis tiba menjadi polesan cantik bak make up di wajah perempuan yang bersolek.
Namun, Paris bukan tidak lepas dari masalah sosial. Tulisan berjudul Di Paris pun Ada Tuna Wisma dan Persaingan Penyewa Apartemen memberikan gambaran bahwa kota cantik yang bernama Paris itu juga memiliki masalah dengan kemiskinan dan kohesi sosial yang mengendor. Nada minor yang selama ini tak terdengar dari kejauhan negara Perancis, digaungkan Sikrit sehingga pembaca Indonesia terbuka matanya dan sadar bahwa permasalahan sosial yang berhubungan dengan kemiskinan selalu ada, di negara kaya seperti Paris sekali pun. Sebuah Ironi yang nyata.
Kerinduan dengan tanah air yang diraskan Sikrit tergambar sangat jelas, terutama ketika berhubungan dengan makanan. Kerinduan dengan durian, gado-gado, pempek, tahu kuning, daun pisang, aneka sayuran-sayuran khas Asia hingga makanan beraroma khas, petai. Kerinduan Sikrit terhadap makanan-makanan khas asia berlabuh di China Town, Surga Belanja Orang Asia. Hal positif lain yang bisa saya tangkap ialah Sikrit menjadi lebih pandai berkreasi di dapur untuk menuntaskan kerinduan lidahnya. Beruntungnya Pat yang memiliki pasangan seperti Sikrit J.
Menjalankan Islam di tengah-tengah lingkungan yang tak bersahabat bukan keinginan Sikrit. Keadaan aman yang selama ini di rasakan di tanah kelahirannya, Lampung, menjadikannya sedikit gagap ketika mencoba hidup di kota Paris. Ini karena hal-hal yang selama ini dianggapnya given[2] berubah menjadi learned[3]. Ia memeriksa makanan-makanannya secara teliti, sampai-sampai membuat daftar angka-angka yang semula merupakan sandi asing, dan di tangan Sikrit berubah menjadi bermakna hingga bisa dipakai sebagai pegangan muslim di negeri Eropa, khususnya di Perancis. Saya bisa merasakan bagaimana berkerutnya dahi Sikrit dan bagaimana seriusnya Pat bertanya ketika mencari tahu maksud angka-angka tersebut. Hal lain yang membuat Sikrit menjadi belajar ialah ketika menjalankan shalat. Di dalam tulisan Perjuangan Menunaikan Shalat, Ia menggambarkan bagaimana ia harus menjaga perasaan orang-orang sekitarnya ketika beribadah. Mukena dan sajadah yang selama ini menjadi andalan ketika beribadah, berubah menjadi jubah dan koran. Tentu saja ini dilakukan untuk mengurangi perasaan kaget orang-orang yang baru mengenal ritual shalat muslim Indonesia. Tempo lain, ia juga sering begadang di musim dingin ketika jadwal shalat berubah drastis (Isya 12 A.M.). Realitas dan kemampuanya beradaptasi memberikan saya pelajaran mengenai ‘Kesadaran’ beragama. Secara implisit ia seolah mengatakan bahwa agama bukan ritual yang sifatnya rutinitas saja, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan ruh dalam menjalankan ibadah.
Perjalanan menjadi muslim yang berusaha kaffah di negeri Eiffel tidak hanya tuntas menjadi pribadi, tetapi Sikrit juga berusaha menemukan komunitas muslim. Kerinduannya akan masjid memandu jari-jarinya mencari keberadaan masjid di Paris. Mosquée de Paris ialah jejak pencarian seorang Sikrit dan mencari masjid. Gembira memang, tetapi ada kekecewaan yang tertahan di sana. Pertama ia tidak mendapatkan sambutan yang baik dari pengurus masjid, bahkan di usir. Kedua, ia, terutama Pat, tidak dianggap bagian karena khutbah-khutbah yang diberikan dalam bahasa Arab. Sikrit melihat ini sebagai ekslusifitas Islam dan tidak seharusnya demikian. Bagi muslim di Perancis pemahaman tentang Islam menjadi penting karena banyak orang-orang Perancis yang mencari tahu tentang Islam tetapi menjadi berubah pikiran karena bahasa dan perilaku ekslisif yang tidak berkenan.
Buku Lumière de L’Amour: Catatan Cinta dari Negeri Eiffel yang ditulis oleh seorang FTM (Full TimeMother) ini enak dibaca tetapi bermanfaat. Uraian-uraiannya sederhana dan kadang-kadang berselorh bebas. Selain itu, buku ini juga disusun dengan cukup rapih. Mulai dari uraian perkenalan daerah-daerah di kota Paris, hingga bahasan yang menjadi pokok, yaitu Islam di Paris. Tentu saja urutan tersebut membantu pembaca mengikuti alur penceritaan dengan baik.
Namun ada sedikit keberatan yang ingin saya ungkapkan. Ada beberapa tulisan Sikrit yang menggunakan ayat-ayat dan hal ini memberikan kejanggalan. Sedianya buku ini baik untuk siapa saja, menjadi terkesan ekslusif untuk Muslim/ah. Barangkali benar demikian, tetapi saya ingin menyarankan agar buku ini tidak secara eksplisit menggunakan ayat-ayat. Bukankah kita tahu bahwa chicken Soup itu ditulis oleh seseorang dengan religi yang berbeda tetapi banyak digemari dan dibaca oleh orang–orang yang bebeda agama. Bagi saya, ketika tulisan ini dibaca oleh nonislam malah bisa menjadi alat dakwah yang ampuh. Saya kira cara menulis seperti itu tidak menurunkan kadar dakwah, justru seharusnya buku ini terbuka untuk berbagai kalangan, agar dakwah tersebarkan kepada agama-agama lain.
Membaca tulisan Sikrit dari awal hingga akhir, membuat saya tahu sesuatu tetang kehidupan dan usaha keras menjaga keislaman di Paris. Namun, isi buku yang sejatinya cukup serius ini tetap membuat saya, terkadang, tersenyum. Terutama, ketika membaca keriangan kecil seorang Sikrit menemukan makanan khas Indonesia atau mengungkapkan rasa cinta pada keluarganya. Sungguh iri saya dibuatnyaJ.
[1] Nama panggilan akrab Rosita Sihombing.
[2] Sesuatu yang sudah diberikan dari sejak lahir tanpa tahu sebabnya.
[3] Sesuatu yang harus dipelajari.































